Tuesday, July 23, 2013

SNMPTN bukan untung-untungan

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SNMPTN )

Saya tulis blog ini karena peduli dengan anak-anak peserta didik SMA/SMK di Indonesia yang saat ini masih duduk di kelas X, XI, XII, dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Indonesia, sekaligus menjawab celoteh ‘miring’ seorang teman yang menyebut “ah.. itu karena anakmu lagi beruntung bisa lolos SNMPTN”.
Saya tersenyum mendengar celoteh tersebut, saya malah justru prihatin dan jadi mengetahui bahwa teman tersebut ternyata tidak mengerti tentang strategi  SNMPTN.
Saya berharap kegagalan putrinya masuk perguruan tinggi negeri tahun ini tidak BERULANG kepada adiknya ditahun berikutnya, hanya karena ketidak mengertian orangtuanya memahami pola kerja SNMPTN.

SNMPTN adalah strategi pintar dikolaburasi dengan interaksi aktif orangtua akan proses belajar mengajar di sekolah plus komunikasi  aktif antar orangtua – guru BK – siswa, terutama pada tahun anak kita duduk di kelas XII.

Seperti tujuan SNMPTN yaitu merupakan pola seleksi nasional berdasarkan penjaringan prestasi akademik dengan menggunakan nilai rapor dan prestasi-prestasi lainnya
Kurang lebih sama dengan program PMDK jaman saya dulu.

RAJIN BROWSING
Hehe jangan cuma lincah di facebook ajah, manfaatin internet dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Perguruan tinggi dan Fakultas yang diminati. Hal Ini termasuk quota dan persentasi antara peminat dan quota tersedia di Fakultas pada perguruan tinggi yang diminati. Yah, maksudnya biar kita realistis, nilai cuma 8, tapi milih Fakultas yang persaingannya ketat banget, jelas aja gagal maning, saingannya siswa kelas XII seluruh Indonesia coyy..
Sering-sering liat situs http://snmptn.ac.id/informasi.html untuk tahu perkembangan proses pendaftaran dan informasi-informasi lain.

MENGETAHUI KELEBIHAN ANAK
Harus mengetahui di pelajaran apa anak kita unggul, maka sesuaikan Fakultas/Jurusan yang dipilih sesuai dengan kemampuan atau nilai unggul anak kita.

REALISTIS DALAM MEMILIH FAKULTAS/JURUSAN
Perlu diingat SNMPTN tidak melihat nilai rata-rata raport, tapi melihat satu persatu nilai mata pelajaran pada raport kelas X, XI, XII. Yang pada akhirnya yang bisa lolos adalah yang memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuannya dengan dibuktikan nilai raport.
Masih kurang jelas ? baik, contohnya begini : Bella nilai rata-rata raportnya 8,5 dengan variasi nilai tinggi rendah pada masing-masing pelajaran. Nilai Ekonomi  7,5 ; nilai Sosiologi 9. Bella memilih jurusan Ekonomi pada Universitas Indonesia. Jelas saja si Bella gagal maning, saingannya siswa kelas XII seluruh Indonesia coyy..  Apabila Bella memilih Jurusan Sosiologi berkemungkinan besar akan lolos, tapi sekali lagi, nilai sosiologinya harus stabil dari kelas X, XI, XII, bukan turun naik.

NILAI STABIL
Semua nilai mata pelajaran di raport harus stabil dari kelas X, XI, XII terutama nilai pelajaran yang menunjang pada Fakultas/jurusannya.
Mau jelas ?  baiklah saya ambil dari true story Karina, anak saya :
Karina : Nilai pelajaran Bahasa Inggris kelas X 8,2; kelas XI 8,7, kelas kelas XII 9,1. Punya sertifikat TOEFL dengan nilai 580. Karina memilih Sastra Inggris pada Universitas Brawijaya.  Hohoho… ini mah merem ajah sudah pasti lolos. Makanya jauh sebelum pengumunan SNMPTN bahkan sebelum ujian negara, saya sudah cari tempat kos di dekat kampus Brawijaya.
Tapi sekali lagi perlu diingat, pelajaran lain juga harus stabil nilainya.

LIHAT COMPETITOR
Semua siswa kelas XII di sekolah adalah “Competitor”. Mengetahui musuh dengan baik adalah kunci menang ‘perang’. Ga percaya??? … tanya  Napoleon Bonaparte
Kembali saya contohkan true story Karina :
Saat saya bernegosiasi dengan Karina, apakah pilih FISIP Hubungan Internasional atau FIB Sastra Inggris sebelum pendaftaran online SNMPTN, saya harus melihat :
1.    Siapa yang ambil jurusan yang sama dengan Karina
2.    Berapa nilai PKN dan Sosiologi ‘competitor’ tersebut (kalau pilih FISIP : Hubungan International)
3.    Berapa nila Bahasa Inggris ‘Competitor’ tersebut (kalau pilih FIB : Sastra Inggris)
4.    Ranking si ‘competitor’ (minimal ranking di kelas)

Untuk info no. 1 memang agak sulit mendapatkannya, bahkan guru BK pun menasehati saya: bahwa rata-rata siswa saling menutupi  jurusan yang dipilih, tujuannya supaya teman dengan nilai yang lebih tinggi dari dia TIDAK memilih jurusan yang sama, bisa kalah donk. Hihihii… percayalah, anak-anak sekarang lebih pinter dalam hal strategic.
Tapi Karina dapat data otentik dari Grace yang nilai PKN dan semua nilai mata pelajaran stabil, bahwa Grace memilih Hubungan Internasional di Universitas negeri yang sama dengan Karina.
Upppssss… down duluan, Nilai PKN Karina hanya tinggi di kelas XII, sementara kelas X dan XI ga stabil, selain itu ranking Grace lebih tinggi dari Karina. Ga mau konyol, salah strategi, pilih fakultas lain : Sastra Inggris.
Bahkan saya ‘menangis’ berhari-hari untuk say good bye pada Hubungan International, karena harus menyusun strategi  lain supaya  lolos saringan SNMPTN.
Perlu semua pembaca ketahui, bahkan saya sudah print-out semua mata kuliah Hubungan International S1 dan S2, bahkan jauh hari sejak Karina masih duduk di kelas X, itu karena minat saya dan Karina klop untuk masuk fakultas tersebut.

PUNYA SERTIFIKAT PLUS
Bekali anak dengan les pada pelajaran yang menunjang  pada fakultas/jurusan yang dipilih, karena sertifikatnya diperlukan untuk dicantumkan saat pendaftaran dan SANGAT menentukan untuk lolos tidaknya  di SNMPTN.
Kembali lagi pada true story KARINA.
Satu minggu sebelum pendaftaran online SNMPTN saya ikutkan Karina pada test TOEFL di EF
Nilai TOEFL Karina 580 , penilaian TOEFL tertinggi adalah 677, untuk bisa masuk Perguruan Tinggi diluar negeri dibutuhkan 550, untuk test masuk Pertamina hanya diperlukan 450.
So.... masih bilang Karina hanya lagi beruntung bisa lolos SNMPTN??

Kesimpulan : 
Berdasarkan fakta, banyak anak (beneran) pintar gagal di SNMPTN, karena terlalu PEDE memilih Fakutlas/Jurusan yang persaingannya ketat, tanpa menyadari bahwa ‘diatas langit masih ada langit’ artinya mereka lupa bahwa ini adalah ajang persaingan nasional, memperebutkan hanya 17% kursi saja dari peminat seluruh Indonesia, artinya betapa ketatnya persaingan, jadi tidak hanya diperlukan nilai yang tinggi saja tapi juga SANGAT DIPERLUKAN strategi cerdas untuk bersaing dengan siswa-siswa yang lebih pintar dari seluruh Indonesia.
Faktanya,  anak-anak pintar yang tidak lolos SNMPTN tersebut bisa sukses masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui test SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan program Mandiri. Jadi memang terbukti bahwa mereka memang beneran pintar, buktinya bisa lulus test. 
Lalu... bagaimana anak Anda?



2 comments:

  1. Halo bu, seneng banget baca artikel ini. Bikin semangat dan harapan SNMPTN tahun ini masih ada, ditambah pendaftar skrg menurun drastis dari tahun lalu. Aku juga kelas XII dan insyaAllah memilih jurusan sastra inggris di UPI, minta doa nya ya bu! Ohiya, pengin liat fotonya karina dong bu, keren bgt toeflnya 580!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Fitrie,
      saya doakan semoga Fitrie lulus SNMPTN. siapkan juga amunisi untuk bertempur di SBMPTN, jadi kalaupun SNMPTN belum lolos masih ada kesempatan di SBMPTN.
      Jangan hanya fokus ke UN, karena kesempatan lulus UN 99%, Fokus ke SBMPTN, sebab kesempatannya hanya 15% tahun ini.

      Adiknya Karina juga kelas XII tahun ini, dan sejak awal tahun pelajaran sudah nyiapin amunisi buat SBMPTN, sukur-sukur bila SNMPTN lolos, jadi ga usah bertempur di SBMPTN.

      Semangat ya Fitrie. Semua orangtua dan guru pasti mendoakan anak2 kelas XII saat ini, supaya semuanya berhasil.

      Delete