Wednesday, February 6, 2013

Karakter orang dikantor saya


Ternyata kisah sinetron nan pelik berliku-liku dan penuh intrik bukan hanya bisa dilihat di TV saja, tapi bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari saya.
Di kantor tempat saya bekerja ini karakter orangnya bermacam-macam. Mereka yang mewarnai hidup saya menjadi merah, kuning, hijau, biru, ungu bahkan hitam saya uraikan disini, saya beri julukan untuk mereka sesuai dengan karakter dan penampilan masing-masing, sebut saja mereka sebagai : 
1.     Bubabi 
2.     TKW 
3.     Bu Mercon 
4.     Lekong 
5.     Babah

1. BUBABI
Orang ini bener-bener “public enemy”, sebagian besar karyawan baik perempuan maupun laki-laki pernah dibikin sakit hati oleh bubabi, tidak terkecuali saya, bahkan saya yang paling banyak dan berkali-kali jadi korban ke dengkiannya.
Bubabi ini banyak memanfaatkan fasilitas kantor untuk keperluan-keperluan pribadinya, seperti memanfaatkan tenaga staff dibawahnya, tenaga supir, mobil kantor dan waktu kerja. Hal ini dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, akan tetapi karena melibatkan staff dan karyawan untuk keperluan pribadinya tersebut, ya sudah pasti jadi bahan omongan orang se pabrik.

Bubabi punya beberapa staff dan salah satu staff nya bertugas melakukan tugas luar seperti ke bank, dll. Tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa staff tersebut dimaksimalkan untuk dikerahkan habis-habisan ngerjain urusan pribadi bubabi di jam kantor, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kantor, seperti mengantar anak bubabi beli HP ke mall, bayar tagihan-tagihan pribadi ke banknya bubabi, beli makan siang untuk anak-anak bubabi, ngantar les anak-anak bubabi.
Hehehe..se bego-begonya karyawan, siapa yang tahan diperlakukan seperti itu, wong staff tersebut direcruit perusahaan untuk mengerjakan kerjaan kantor, kok ini malah ‘dialih fungsikan’ jadi baby sister dan pembokat pribadi-nya bubabi. Akibatnya staff perempuan yg bertugas luar itu selalu berganti-ganti, mereka tidak betah dan minta di mutasi ke bagian lain.
Sebut saja, Ms.Wid, Ms. Wit, Ms.End, dan Ms.Le.  “Korban” yang sampai saat ini  masih ‘manteng’ di departemen bubabi adalah Ms.Le. (hehehe saya sebut korban karena mereka ini memang menderita sekali). Korban manteng bukan karena betah, tapi karena dibuat tidak bisa pindah ke bagian lain oleh bubabi. Caranya??? Caranya ya dengan menilai jelek pada ms.Le pada setiap appraisal tahunan, sehingga dibuat departemen lain tidak mau (tidak enak hati) menampung Ms.Le.

Suatu kali ketika jam nya pulang kantor, sopir dan mobil saya terlambat kembali ke kantor, sehinga saya harus menunggu lumayan lama, ketika sopir dan mobil kembali saya langsung diantar pulang oleh supir. Tercium aroma kuah bakso di dalam mobil, saya tanya kepada supir:
“dari mana pak? kok terlambat?”
“habis mengantar bakso kerumah bubabi”
“lho pak, kenapa tidak dibawa oleh bubabi di mobil bubabi, sekalian pulang?”
“katanya bubabi mau mampir ketempat lain dulu”

Ckckckckckck…. 2 mobil beriringan kerumah bubabi… 1 mobil antar bubabi, 1 mobil lainnya antar baksonya… .Gile..mau dibawa kemana ini perusahaan miara orang seperti itu??

Itu sedikit perlakuan bubabi yang merugikan, lalu bagaimana perlakuannya terhadap saya??
Beeuhhhhhh… saya dijadikan ‘sangsak’ korban kedengkian bubabi.

Sedikit flash back, saya joint di perusahaan ini beberapa tahun lalu, saat bubabi sudah ‘karatan’ bekerja di perusahaan ini, dengan posisi dan fasilitas saya yang ‘blink-blink’ menurut bubabi (mungkin juga menurut karyawan wanita lain di perusahaan ini). Dari mulai joint, salary saya sudah menyalib salary bubabi (kenapa saya tau?), karena saya yang mengerjakan semua urusan senior staff (termasuk 5 orang yang saya sebutkan diatas), dari mulai payroll-nya, medical-nya, jamsostek-nya, meal allowance-nya, THR nya, pajak-nya.
Salary adalah strictly confidential, dan saya tidak tahu apakah bubabi tau hal tersebut atau tidak? dan kalo dia tau, dari mana sumbernya?? Berdasarkan azas praduga tak bersalah, mungkin dari  si Lekong yang notabene bisa menghitung kira-kira berapa salalary seseorang berdasarkan SPT Pajak tahunan karyawan yang disetorkan oleh Lekong ke kantor pajak berdasarkan laporan data dari saya.

Tadinya saya ga peduli amat dengan sikap bubabi yang selalu berusaha ‘menyerang’ saya, yang penting saya bekerja sesuai tuntutan perusahaan yang membayar saya, akan tetapi lama kelamaan si bubabi ini menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan saya. (Alhamdulilah sampai dengan saat ini usaha bubabi sia-sia, karena saya bekerja sesuai prosedur dan jujur serta semua pekerjaan saya mempunyai catatan yang jelas, sehingga ketika berulang-ulang bubabi menjatuhkan saya, hal itu tidak berhasil).

Peristiwa paket dari Japan
Beberapa waktu lalu ada paket kiriman spareparts dari Japan melalui salah satu courrier service ternama, yang terlambat beberapa bulan di ambil oleh perusahaan sehingga menimbulkan biaya gudang yang tinggi yang ditagih courier service tersebut ke perusahaan. Pimpinan perusahaan di kota lain, tidak bersedia membayar biaya akibat “kecerobohan” tersebut. Menurut bubabi itu salah saya, karena bubabi mendapat informasi dari courier service tersebut bahwa beberapa kali mereka mengirim email ke saya tapi tidak ditanggapi. Dan hal ini dijabarkan oleh bubabi saat meeting bersama salah satu direksi (ckckckckc…) dengan membacakan kronologis menurut versi dia yang semuanya mengarah pada kesalahan saya.
..... Sumpah, saya melihat kedengkian di wajah bubabi saat membacakan kronologis tersebut, dan saya heran, apa urusannya dengan bubabi sampe dia menelpon courier service tersebut secara detail untuk menanyakan kronologis pengiriman?
Cckckckkc.. vulgar banget yak caranya menumpahkan kedengkian.

Setelah meeting selesai, saya telpon ke courier service tersebut, saya tanyakan mengenai email notification yg katanya dikirim by email ke saya, karena tiap hari saya buka email, tidak ada. Saya minta mereka cek apakah email tersebut bouncing?
Beberapa hari saya berjuang mati-matian melawan ke zholiman untuk membuktikan bahwa saya tidak menerima beberapa email dimaksud.
Setelah melalui pembuktian yang valid, akhirnya pihak courier service mengirim surat permintaan maaf atas ketidak nyamanan (sumpah, mereka tidak membahas mengenai email yang tidak terkirim), dan membebaskan perusahaan dari biaya gudang yang tinggi.

Alhamdulilah…. Terima kasih ya Allah, sekali lagi kedengkian bubabi dipatahkan oleh kebenaran.

Saya sampaikan surat itu ke pimpinan di kota terpisah dan saya sampaikan ke bubabi berita tersebut, yang Cuma dijawab “O” tanpa ada ucapan “maaf”.

Kalo ngikutin emosi, mau saya tempelin itu surat ke jidat bubabi, biar dia lompat-lompat dengan kedua tangan menjulur kedepan,  seperti setan-setan di film cina.

Peristiwa pengalihan tugas
Suatu ketika TKW joint ke perusahaan, dan tanpa pemberitahuan apapun ke saya, beberapa kerjaan dipindahkan ke TKW tersebut. Karena saya tidak tau, maka saya masih menandatangani surat medical staff dan non staff yg disodorkan ke saya. Akibatnya, ketika staff dimaksud menyerahkan ke bagian keuangan untuk direimburse, ditolak oleh bubabi. Dan bubabi menelpon ke saya menyebutkan :  “Tanda tangan kamu sudah tidak laku!”

Lho silahkan di alihkan akan tetapi harusnya diberitahu terlebih dahulu kepada staffs dan kepada saya sebagai penandatangan sebelumnya, toh saya mengerjakan pekerjaan tersebut selama posisi TKW kosong sebelumnya.
Pengalihan pekerjaan bukan automatic seperti itu, harus diserah terimakan, ada system dan prosedur yang dikeluarkan perusahaan sehubungan dengan pelaksanaan tugas-tugas tersebut, sehingga harusnya saya memberi informasi kepada si penerima tugas bagaimana sistemnya, apa yg musti diperiksa sebelum di tandatangan.
Saya juga tidak tau bagaimana asal muasalnya TKW ini, kenapa dia menerima tugas begitu saja tanpa menanyakan bagaimana sistemnya berjalan, main sikat, main tandatangan, akibatnya salah! karena tidak sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku.

Beeuhhhhh… bubabi menikmati sekali melecehkan saya dengan kata-kata tersebut.

Saya tanyakan hal tersebut kepada bu Mercon, apakah benar dialihkan tugas tersebut? Harusnya saya diberitahu terlebih dahulu sehingga saya tidak menjadi bahan lecehan bubabi, harusnya TKW menanyakan sistemnya, karena ada prosedur dan aturannya sebelum menandantangani surat dimaksud.
Jawab bu Mercon malah mengecewakan saya: “itu memang bukan tugas kamu kan? Jadi dialihkan ke TKW, kasih aja semua prosedur yang diperlukan ke TKW”

wah wah… ini siapa yang “dong-dong” sih??
Sekali lagi, mau dibawa kemana perusahaan ini  dengan mutu kerja karyawan-karyawan seperti itu??

Kalau disebutin semua kedengkian bubabi kesaya… banyaaaaaaaaaaaaaaakk, cape saya ngetiknya.

2. T K W
Orang ini menikmati banget pembantaian bubabi atas saya. Bubabi mendekati orang ini untuk sama-sama ‘membantai’ saya, tapi sejauh yang saya lihat si TKW ini tidak membantu kejahatan bubabi, hanya menikmati hasil kejahatan bubabi pada saya.
TKW saya pergoki culas : memberikan hasil kerjaan saya melalui tangan dia kepada direksi langsung. Ampyuuun… vulgar amat caranya cari muka.

3. BU MERCON
Bu Mercon. Boss-nya bubabi. Saya menyebutnya begitu karena ibu ini gampang banget di komporin (terutama oleh bubabi) dan langsung meledak, saya mengibaratkannya seperti petasan banting yang langsung mbledos .... "DUAAAAARRR!!!"
Duluuu sekitar 2007-2008 saat bubabi menjilat dengan GM yang lama dan kebetulan GM yang lama saling sikut dengan bu mercon. Bubabi pernah bilang ke GM bahwa bu mercon tidak ada fungsinya sama sekali diperusahaan ini, karena cuma tanda tangan cek doang dan itu seharusnya bisa dilakukan oleh GM, dan bagian keuangan tidak perlu bu mercon, sehingga menurut bubabi yang disampaikan ke GM saat itu : posisi bu mercon tidak perlu ada, buang-buang uang perusahaan ajah untuk gaji bu mercon.
 

Tapi ajaibnya saat GM dimaksud resign, kiblat bubabi beralih ke bu mercon, dengan segala cara bubabi menjilat kepada bu mercon. Dan sekarang simplenya : dengan karakter bu mercon yang gampang dikomporin tersebut, menjadi jembatan dan alat bantu bubabi untuk menghancurkan siapa saja yang tidak disukai bubabi. Caranya? Adukan saja siapa saja dan apa saja yang membuat panas bu mercon, sehingga bu mercon meledak dan disampaikan ke direksi di kota lain, maka… ‘jeng jeng jeng !!..’ yang terjadi kemudian dapat ditebak.
Tapiiiiiiiiiiiiii…. Semua hasil komporan bubabi kepada bu mercon tentang saya dan akhirnya diadukan ke direksi, tidak digubris oleh direksi! Alhamdulilah… saya tidak pernah diklarifikasi oleh direksi. Direksi lebih melihat kemampuan dan karakter saya dari pada aduan mercon banting seperti itu.

4. LEKONG
Lekong pernah sangat akrab dengan bubabi, akan tetapi begitu Lekong mendapat fasilitas mobil dan salary yang jauh lebih tinggi dari bubabi, si Lekong langsung dimusuhin abis-abisan oleh bubabi.
Lekong hampir tidak pernah membuat story dengan saya, hanya peranannya sehubungan kedengkian bubabi menjadi terkait dengan si Lekong.

5. BABAH
Ini orang baru wajah lama. Sama saja tidak profesionalisme-nya dengan TKW.
Saya sempat mengenal Babah saat saya baru joint beberapa bulan di perusahaan ini, yang kemudian dia resign dan sekarang balik lagi ke perusahaan atas rekomendasi bu Mercon.
Saat resign dulu ada story yang mungkin nyebelin si babah, karena tidak mendapat redundant seperti yang dia harapkan.
Ceritanya begini : Dulu saat saya baru joint, perusahaan ini masih dipimpin bule, peraturan pemerintah melalui undang-udang ketenaga kerjaan no. 13 tahun 2003, sengaja diplintir oleh oknum Personalia yang lama. Semua yang resign mendapat redundant layaknya orang kena PHK atau Pensiun. Sehingga karyawan yang masa kerjanya lama akan senang sekali resign pindah ke competitor dengan mendapat ratusan juta rupiah dari perusahaan, kemudian beberapa bulan kemudian balik keperusahaan. Wah wah wah… ajaib sekali perusahaan ini! Ketika saya joint, saya bacakan undang-undangnya kepada bos bule saya, dan saya translate kedalam bahasa inggris dan saya berikan pengertian pasal per pasal. Akibatnya ….. Personalia dipanggil dan dimarahin karena dianggap sengaja memberikan informasi yang salah salama ini sehingga mengakibatkan kerugian perusahaan. Nah, si babah ini adalah orang terakhir yang resign yang ngarep dapet redundant, tapi ga dapet, karena sejak saya joint peraturan perusahaan mulali berjalan sesuai undang-undang. Si Babah hanya dapet 15% dari salarynya sebulan sesuai undang-undang, dan dia tidak terima, maka uang tersebut di transfer balik ke perusahaan dengan marah.
Itu masa lalu. Done.
Sekarang ini, saya menilai Babah juga tidak professional (meskipun dia ngaku-ngaku professional ..heheh), kaitannya dengan pengalihan tugas dari saya ke TKW, sebagai pimpinan lokal tertinggi harusnya dia tau prosedur-nya, harusnya paling tidak dia panggil saya dan informasikan ke saya (kalau memang males bikin memo), atau info-kan ke saya, sebagaimana seorang professional bertindak.

Sebetulnya yang professional opone?? Sikile kaleee!! 

Yahhhh gitu deh mereka mewarnai hidup saya.


2 comments:

  1. wew.. bacanya ikutan gregetan deh bu..hihi..
    ada aja ya kisah nyata itu. Saya pernah di maki, oleh si sipit, saya menyebutnya. akhirnya ketauan juga belangnya, karena bukan kesalahan saya, sampai direktur saya bilang, anda S1, tapi otak di dengkul kepada sipit..hihi..

    Saya pindah dept, bagian Engineering..

    ReplyDelete
  2. iya Nia, musti kuat mental ngadepin orang2 seperti itu. Saya masuk perusahaan ini kan ga mudah, masa' saya mau keluar begitu ajah karena orang2 model Bubabi dan TKW tersebut, bisa jingkrak-jingkrak kegirangan mereka itu. Jadi sekarang tinggal bilang gini "kuatan mana, Lu apa gue?" maju tak gentar membela yang bayar.. heheh wong yang membayar saya saja menghargai saya kok, kenapa saya harus kalah sama konspirasi murahan kayak gitu.
    Upsss jadi kepancing marah..
    Tks ya Nia sudah memberi comment.

    ReplyDelete