Friday, August 3, 2012

Kampung Jakarta-ku

Kangen suara 'gedombrangan' orang bangunin saur. Dulu dirumah ibu saya, setiap kali puasa, dari mulai hari pertama sampai dengan malam takbiran, setiap malam mulai jam 2:00 am sampe jam 3:30 am, sudah banyak musik keliling, dari mulai dangdut, kesidahan sampe anak2 kampung yang teriak-teriak bawa tabuhan seadanya, semuanya pada teriak “sauuurrrrrr.... sauuuuuurrrr... sauuuurrrr,,,, sauuurrr"
Sekarang dirumah saya ini, saur begitu sepi, cuma kedengeran suara satpam keliling dengan bunyiin klakson motor, sambil sekali-sekali bunyi “sauuur bu/pak”.
Nggak seru babarblasss!!


Setiap bulan puasa saya selalu teringat masa kecil.
Kangen Jakarta jaman saya SD, dimana di dekat mushola masih banyak pohon kelapa. 
Kalau pergi mengaji ke mushola habis magrib, saya dan teman-teman bawa obor untuk melewati kebon kelapa itu karena saat itu listrik belum merata masuk kampung.
Kalau ngajinya sore, seringkali habis pulang ngaji saya dan teman-teman latihan manjat pohon kelapa yang batangnya di kerat-kerat supaya ada panjatan kaki untuk menuju atas. 
Saya belum pernah bisa sampai atas, palingan sampai setengah sudah melorot lagi. 

Belum sempat saya berhasil sampai atas, kebon kelapa dijual yang punya kebon, ke orang kaya pendatang, maka pohon-pohonnya mulai ditebang, dibangun rumah mewah (pada saat itu). Kebon kelapaku hilang, gantinya tiang listrik berjajar disepanjang jalan, ada pemerataan listrik masuk kampung.
Teman-teman saya yang nekat, memanjat tiang listrik sebagai pelampiasan pengganti memanjat pohon kelapa (saat itu baru tiang-tiangnya saja, kabelnya belum dipasang), tidak pernah ada yang sampe keatas, karena besi-besi itu tidak bisa dikerat-kerat. 
Saya tidak pernah berniat memanjat tiang listrik, karena letaknya kelihatan dari rumah, Ibu saya pasti akan ngomel-ngomel, kira-kira seperti ini : 

"bocah wedok mboten pareng manjat-manjat. bocah wedok pantese lungguh ayu nang omah"  

hihihih... Ibu nggak tau bahwa saya sering manjat pohon kelapa.

Di kampung sebelah ada banyak pohon jamblang maka disebut gang jamblang, ada banyak pohon sawo maka disebut gang sawo.

Sekarang situasi kampung beda, padat dan banyak etnis pendatang mendominasi kampung Jakarta saya. hilang warna kampung saya yang dulu.

No comments:

Post a Comment