Wednesday, May 9, 2012

IBU ku



Senin, 7 Mei 09:00 am saat adikku menelpon, aku tengah meeting direksi di kantorku. Aku tidak menjawab tapi segera aku sms : “ada apa Wi ?”.

Sms ku dijawab dengan nada kalimat yang terlihat panik, karena sebagian besar susnan hrufnya kacau, isi nya kurang lebih seperti ini  :

“Ibu sakit, Wiwi nggak kerja, jagain Ibu, Bapak kasian nggak bisa mengurus Ibu sendirian, mbak Eny cepetan pulang, kerumah Ibu”
 “Wi, jangan nungguin mbak Eny dateng, cepat ke dokter SEKARANG, panggil taksi, minta bantuan tetangga untuk angkat ibu”

Ibu ku sudah setahun lebih ini kakinya sakit  untuk berjalan, hasil analisa dokter  melalui rontgen, pemeriksaan darah dan cek kesehatan lainnya, Ibuku menderita kolesterol tinggi, pengapuran dan asam urat. Diberikan obat secara kontinyu, akan tetapi tidak ada perubahan yang berarti.
Bebebrapa minggu lalu Ibu megeluh kepadaku, pingin kakinya cepat sembuh sehingga bisa olahraga senam lagi dengan teman2 ibu. Lalu aku katakan bahwa  Wiwi akan antar Ibu ke rumah sakit, ke dokter lain untuk second opinion, Ibu siapkan semua hasil analisa dokter sebelumnya, supaya dokter berikutnya tau riwayat sakit ibu.

Dalam meeting, aku bolak-balik balas sms tanya perkembangan ibu.
Saat meeting selesai jam 11:30 am, aku langsung menelpon adikku :
 “Wi, gimana Ibu?”
“Sudah tenang mbak, sudah mau makan, tapi ibu bilang kakinya sulit digerakkan”
“Kok ga jadi ke rumah sakit?, kan mbak Eny bilang cepet bawa ke rumah sakit, karena kita nggak tau apa yang di derita ibu saat ini”
“Ibu bilang mau sama dokter langganan aja yang bisa dipanggil kerumah, tapi baru buka praktek jam 16:00”
“Kalau menurut Wiwi Ibu sudah tenang dan membaik, ya silahkan tunggu dokter sore, tapi nanti di dokter langganan ibu itu tanya yang detail mengenai penyakit ibu, dan minta rujukan opname kalo dia ga bisa nanganin”

Aku kembali meneruskan pekerjaanku di kantor sambil terus memikirkan Ibu.
Di jidat bagian tengahku terus berkedut dan terasa sakit dan ga nyaman. Kelopak mata kanan atasku juga terus berkedut, sangat tidak nyaman. Seluruh badanku terasa lemas, aku merasa badanku sakit tapi aku tidak sakit.
Sore jam 15:00 Wiwi kembali menelponku :

 “mbak Eny, Wiwi bawa Ibu ke rumah sakit saja, nggak jadi tunggu dokter langganan, kelamaan”
“Ya Wi, cepet lakukan, wiwi yang tau kondisi jadi cepet lakukan, harusnya itu dilakukan dari pagi tadi”

Ibu masuk ruang ICU, diberi infus, diberi oksigen, cek darah, cek jantung, tunggu hasil beberapa jam lagi.
Aku masih dikantor, masih mengerjakan result meeting Direksi yang aku merasa harus kukerjakan secepatnya
Sudah jam 16:00, yang semula aku mau pulang langsung kerumah sakit jenguk ibu, aku batalkan karena aku tidak bisa menyetir jauh, dengan kondisi jidat dan mata yang terus berkedut, leherku terasa berat, badanku seperti merasakan shock, aku tidak berani menyetir mobil jarak jauh (bekasi-Roxy), kondisi jalan macet, hujan, akan sampe jam berapa dirumah sakit?  Dan jam berapa aku akan sampe rumah lagi?
Maka aku kembali meneruskan pekerjaan kantor sampai jam 17: 50. Aku langsung pulang. Aku merasa mau teriak tapi tidak tau kenapa.
Sampai rumah aku kembali mengecek keadaan ibu dirumah sakit melalui adikku Yanti dan Wiwi yang menunggu ibu bersama Bapak di rumah sakit.
 hasil analisa dokter, tekanan darah Ibu meningkat tajam, sehingga jantung bekerja sangat keras, dan terjadi pembengakaan  jantung, harus dijaga jangan sampai ibu memikir telalu berat.
Aku solat magrib dirumah, aku mengaji dan membaca yasin untuk kesembuhan ibu. Badanku masih terus terasa shock yang aku tidak tau kenapa.
Aku masih terus bersimpuh diatas sajadah ketika suamiku menelpon dari Melbourne.
Aku menangis dan aku katakan :

 “aku tidak tau apa yang aku rasakan, babe, aku kasian Ibu, tapi badanku sangat sakit untuk aku bisa ke rumah sakit, aku tunggu besok pagi, sama2 anak2 menjenguk kerumah sakit.. Aku benci komputer babe, aku benci kerja”  aku agak berteriak.

Aku juga tidak tau kenapa saat itu aku sangat benci komputer dan benci dengan semua pekerjaan,aku tidak menyalahkan pekerjaan kantor ku yang menjadi alasanku tidak pergi ke rumah sakit malam itu, karena alasan lain aku tidak pergi ke rumah sakit malam itu adalah, karena aku tidak mampu untuk melakukan perjalanan ke rumah sakit, karena aku merasakan badanku mengalami sesuatu seperti keadaan shock.
Dari jam ke jam aku pantau keadaan Ibu melalui telpon, bahkan aku mendengar suara ibu yang minta dipijat kakinya, minta di tinggikan posisi tempat tidurnya.
Hasil analisa dokter jam 21:00, kondisi darah ibu drop ke 90, itu bahaya, harus di citi scan untuk melihat syaraf2 di kepala untuk mengetahui menyebab tekanan darah yg naik turun.
Citi scan dilakukan, dan kembali ke ruang ICU. Kondisi kembali stabil.

Selasa, 8 Mei 2012, jam 04:00 am Ibu sudah stabil dan keluar dari kamar ICU untuk pindah ke kamar perawatan.

Selasa, 8 Mei 2012, jam 08:15 aku menelpon adikku Wiwi dirumah Ibu, Wiwi mengatakan Ibu sudah stabil dan sudah mau makan, suaminya Wiwi dan suaminya kakakku Elly baru saja pulang dari rumah sakit pagi ini, jadi di rumah sakit sekarang tinggal Bapak sendiri menunggu Ibu.  Alhamdulilah..perubahan membaik, kataku dan Wiwi.
Dan aku bersiap drive ke rumah sakit, jenguk ibu sama anak2.

Saat aku dan Wiwi bicara ditelpon, HP ku berdering, telpon dari rumah sakit, suara Bapak :

“Eny.... ibumu sudah nggak ada”
suara Bapak tenang tapi bagaikan hantaman dikepalaku.

Aku menjerit dan terus memanggil-manggil Ibuku, aku juga mendengar suara Wiwi menjerit-jerit nangis ditelpon, menanyakan “ibu kenapa mbak.... ibu kenapa mbak...? “ aku tidak mampu menjawab aku hanya terus menangis memanggil Ibu. Kepalaku sangat pusing, aku merasa mau jatuh tapi aku bertahan, aku katakan pada diriku
“AKU SEHAT”
Aku katakan pada Wiwi, Ibu sudah tidak ada jam 8:00 hari ini. Kemudian aku tutup telpon, aku kembali menangis sejadi2nya.  
Aku tumpahkan semua bersama anak2ku.
Aku telpon suamiku (saat itu di Melbourne sudah jam 11:30), baru dapat tiket besok, Garuda Melbourne – Jakarta direct hanya 1 kali, pagi hari, jam 9:55 waktu Melbourne.

Aku telpon taxi untuk datang secepatnya.  aku putuskan untuk tidak menyetir karena kondisiku kacau.
Sambil menunggu taxi aku kabarkan ke dua saudaraku lainnya, Elly dan Yanti. Ke sepupuku, ke adiknya Ibu, Pak lek John. Dan kesuma kerabat yang ada listnya di HP ku.
Aku harus segera sampai rumah sakit untuk mengurus semua admisnistrasi rumah sakit sebelum Ibu dibawa pulang ke rumah.
Setibanya Ibu dirumah, kami ber 4 anak2 Ibu, mengaji didepan jenazah Ibu. Bapak terduduk terpaku, dengan Yasin ditangannya, membaca terbata2. Aku peluk Bapakku, bawa Bapakku duduk di kursi yang nyaman, Bapak yang aku kagumi selalu tenang dan cool, dan sabar kali ini tak mampu menahan air matanya, Bapak menangis tergugu.
Aku katakan berulang2 ke telinga Bapak ...

 “Bapak mohon sabar iklas dan tenang, kami semua sayang dan cinta Ibu dan Bapak, kami semua Elly, Eny, Yanti dan Wiwi akan mengurus semua keperluan pemakaman dengan baik, kami akan merawat Bapak dihari tua ini. Bapak mohon iklas”

Aku peluk terus Bapak, aku ciumi wajahBapak, aku melihat jelas kedukaan diwajah Bapak yang mulai menua.
Ya Allah, berikankebahagiaan dan kesehatan untuk Bapakku.

Sambil terus suara pengajian dari kami anak-anak Ibu berkumandang, kerabat2 mulai berdatangan dan ikut membca Yasin bersama.
Kami ber empat memandikan Ibu disaat terakhirnya.
Dulu Ibu memandikan kami ketika masih bayi dan balita, saat ini kami yang memandikan Ibu dengan penuh hormat dan kasih sayang.

Ibu dimakamkan di Karet Bivak, sesuai permintaan Ibu kepada kami ketika Ibu masih sehat.
Alhamdululah, Semua proses dari mulai pemulangan Ibu ke rumah, pemandian jenazah hingga ke pemakaman berjalan dengan lancar dan cepat.

Innalillahiwainnailaihirojiun.. selamat jaalan Ibuku.. semoga amal Ibadahmu diterima disisi Allah, diterangkan kuburnya, diampuni dosa-dosanya.
Kami anak-anakk Ibu belum bisa membahagiakan Ibu seperti saat Ibu membahagikan kami dari kami kecil hingga dewasa, semoga Allah yang mebalas semua ibadah Ibu, dengan membahagiakan Ibu di akhirat sana, sepertiIbu membahagian kami semua, anak2 Ibu.
Kami semua cinta Ibu, tidak ada putus2 nya doa kami untuk Ibu, apapun yang sudah kami berikan untuk Ibu tidak pernah kami rasakan cukup dan sebanding dengan apa yang ibu berikankepada kami : pertaruhan nyawa saat ibu melahirkan kami, air susu yang kami minum untuk keberadaan kami di dunia, susah payah ibu ketika kami kecil rewel, ketika kami sakit ibu tidak tidur, ibadah ibu yang selalu bijaksana mengatur semua keuangan demi kelangsungan keluarga, ibadah ibu melayani dan mencinta Bapak hingga akhir hayat dan doa Ibu yang tidak putus2nya untuk kami anak-anak disetiap solat Ibu hingga akhir hayat, doa ibu yang tiada henti untuk semua anak cucu Ibu, disetiap solat Ibu, hingga akhir hayat.
Terima kasih Ibu... tidak ada balas budi yang sebanding dari kami untuk Ibu, selain dari Allah. Amiin.


Ditulis dengan bercucuran air mata.

2 comments:

  1. ah, airmata ini ikut menetes, duka ketika orang terkasih tiada terutama ayah dan bunda kita.

    Semoga bunda ditempatkan di tempat terindah. Karena-Mu aku lahir dari rahim bundaku!


    ReplyDelete