Monday, April 9, 2012

Akulah ilalang

Gerbong sesak yang membawaku berhenti disebuah stasiun kecil. Aku diturunkan disini bersama dengan banyak perempuan yang sama sekali tak ku kenal, yang tadi berjejalan dalam satu gerbong pengap bersamaku.
Lunglai tubuhku, airmata belumlah kering, masih terbayang wajah perih mbok yang tak kuasa mencegah kepergianku.
Mereka merebutku dari pelukan hangat mbok dan mas Tegar. 
Aku sedang membantu mbok, meniup-niup tungku api dengan rebusan air diatasnya, ketika beberapa laki-laki berperawakan kekar, bermata sipit menerobos gubuk kami.
Salah seorang laki-laki kekar itu menarik lenganku dengan paksa dan kasar. Tatapan matanya seolah melahap seluruh tubuhku.
Tubuhku berguncang kuat, aku menggigil ketakutan.

“Mboook..mboook… tolong”

“Jangan tuan…. Jangan dibawa pergi anak saya..”

Tangan kekar itu terus saja menarik lenganku, tak peduli rintihan kesakitanku. Duh gusti Allah… seandainyapun mas Tegar ada disini, sanggupkan dia menghalau mereka untuk tidak membawaku?

........................

Sentuhan dibahuku menyadarkanku bahwa aku sudah jauh dari kampungku, jauh dari wajah tulus mbok dan wajah penuh kasih mas Tegar.

“…Hayo jalan lagi, kalo ndak mau dibedil serdadu..”

Seorang perempuan berwajah pucat menyentuh bahuku.
Aku terkesiap kaget, aku harus hidup dan pulang kekampungku kepelukan mbok kemudian menikah dengan mas Tegar.
Lunglai aku melanjutkan perjalanan, sebentar-sebentar para serdadu itu membentak-bentak kami yang sudah tak mampu lagi berjalan. 
Kulihat sekeliling, para perempuan muda yang bernasib sama denganku ini rata-rata berperawakan kurus dan pucat, aku yakin mereka direbut dari pelukan hangat keluarganya.

“.... mau dibawa kemana kita..?”
Tanyaku lirih kepada perempuan pucat yang tadi mengingatkanku untuk jalan.

“Aku ndak tau …, tapi tetanggaku pernah cerita katanya para perempuan yang dibawa akan dipekerjakan di barak-barak serdadu..”

Aku terdiam tak bisa menerka apa yang akan terjadi didepan sana, tangisku habis sudah, yang tersisa hanya sebuah kekuatiran dan ketakutan.

“....namaku Surti..”
Aku tetap tak menyahut ketika perempuan disebalahku menyebutkan namanya.

Akhirnya kami tiba disebuah bangunan luas dengan banyak serdadu disana. Kami memasuki ruang itu dan mereka mendata kami satu persatu.
Seketika jemariku kuat mencengkeram lengan Surti, ketika mataku menangkap sosok laki-laki kekar yang menyeretku dari pelukan mbok kemarin.

“SIAPA NAMAMU!!”

Laki-laki itu berteriak kasar dengan bahasa yang tidak terlalu kumengerti.

“ilalang…” kataku lirih.

Kemudian kami dikelompokan masing-masing 10 orang yang menempati satu ruang kecil beralaskan tikar. Surti ada dalam satu kamar bersamaku dan delapan orang lainnya.
Kami diberikan pakaian ganti, disuruh membersihkan diri. Namun aku tak bergeming, ketakutan sangat menghantui pikiranku. Aku terus menangis, terduduk disudut kamar dengan memeluk lutut, aku terus berimajinasi bahwa aku dalam pelukan hangat mbok. ...sampai suatu hentakan mengejutkanku,

“HEYY…. KAMU MAU MATI ! CEPAT BERSIHKAN DIRIMU!” 

Salah seorang laki2 penjaga membentakku.

Setelah aku menyalin pakaianku, serombongan laki-laki kekar menerobos masuk. Dadaku berdegup cepat ketika kulihat laki-laki kasar itu ada diantara mereka. Duh.. Gusti apalagi yang akan terjadi setelah ini?
Dan ketakutanku pecah sudah, aku menangis sejadi-jadinya ketika lengan kasar lelaki yang belakangan kuketahui bernama Kino itu merangkul pundakku. Aku meronta berusaha melepas rangkulannya, tapi..... PLAK!!!” tamparan keras mendarat dipipiku, dia menyeretku ke dalam sebuah kamar, kemudian mendorongku ke atas sebuah dipan sehingga kepalaku membentur kayu ujung dipan tersebut. Terhuyung aku bangkit berusaha menuju pintu, akan tetapi baru dua langkah kakiku, laki-laki itu menarikku hingga pakaianku terkoyak dibagian belakang. Kulihat ia menyeringai seolah mau menelanku bulat-bulat.

"..aaampun tuan… jangan apa-apakan saya..”

Terisak-isak aku memohon terduduk dihadapannya
Kemudian dia meraih bahuku dan membuatku berdiri dekat dihadapannya. Nyawaku bagaikan diujung tanduk saat ini, sedikit saja aku meronta maka sudah dipastikan dia akan menghajarku.
Terdiam sesaat….
Aku tak berani mengangkat wajahku…
Kemudian, tak diduga tangan kasarnya merobek baju bagian depanku dan menjambak rambutku hingga kepalaku terdongak, dengan liar dia menciumi seluruh wajahku yang basah dengan air mata. Kembali dia mendorongku ke dipan, melucuti semua pakaianku hingga tak sehelaipun yang menutupi tubuhku. Aku meronta ketika dia berusaha menindihku, kutendang perutnya yang kemudian memancing amarahnya dan mengakibatkan kembali dia memukuli wajahku hingga hidungku mengeluarkan darah. Laki-laki itu dengan liar menelusuri seluruh bagian tubuhku, dengan paksa berulang-ulang memasukiku.
Perih Gusti… sakit sekali rasanya… sangat sakit didada ini, sakit tak terperi, dia memperkosaku dengan sangat liar.
Aku terdiam menahan sakit luar dalam, kemudian… gelap disekelilingku.
.....................

“… ilalang… ilalang…ilalang...”

Samar kudengar suara lirih memanggilku. Kubuka mataku perlahan, kulihat wajah cemas Surti.

“Serdadu itu membawamu kekamar ini dalam keadaan tak sadarkan diri”

Tangisku meledak seketika.

“Sabar ya nduk… mungkin kamu ndak tau untuk apa mereka membawa kita kesini”

Terlintas wajah mbok dan almarhum bapak dipelupuk mataku bergantian dengan wajah mas Tegar.

“Mereka membawa kita kesini untuk melayani para serdadu-serdadu tersebut…”

Duh Gusti… hal buruk ini menimpa diriku yang belum lagi genap berusia 15 tahun. Hancur sudah harga diriku diinjak-injak dan dilahap oleh laki-laki itu.

“ilalang… kita harus kuat, bukan tuan Kino itu saja yang akan menidurimu, tapi serdadu-serdadu lain juga mungkin akan datang dan membawamu, jangan melawan ya nduk.. nanti kamu bisa mati di bedil”

“Aku lebih baik mati dari pada harus mengalami hal seperti itu lagi..” kataku lirih.

“Sabar nduk… ingat mbok yang menunggumu pulang, mereka mengharapkanmu hidup”

Terdiam aku dalam tangis. Mbok… semoga mbok dalam keadaan sehat wal’afiat dan semoga mas Tegar masih sering mengunjungi dan membantu mbok.
Mas Tegar…. deras air mataku mengalir mengingat wajahnya. Aku malu dengan diriku yang sudah kotor ini, akankah dia sudi menerimaku kembali ketika aku pulang nanti?

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari neraka untukku, mereka tidak memberiku kesempatan untuk sekedar beristirahat, mereka menyeret tubuh lunglai-ku untuk dibawa ke kamar itu, dan dengan tatapan kosong aku tak mampu menghentikan mereka bergantian meniduriku dengan buas, aku seringkali pingsan ketika dikembalikan ke barak dan tak jarang kudapati biru lebam ditubuhku.

Suatu saat aku mengalami pendarahan hebat, setelah beberapa bulan tidak datang bulan, aku ditempatkan di barak lain, mungkin aku mengalami keguguran, di saat itu aku merasakan sakit yang bukan kepalang, rasanya aku tidak tahu apakah aku sudah mati atau masih hidup. Aku dibiarkan selama beberapa hari, tapi berikutnya aku dikembalikan ke barak semula... menanti siapa berikutnya yang menyeretku kekamar itu...
Aku tidak tau sudah berapa lama aku berada di sini.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, seolah tak ada harapan untukku pulang. Ingin ku minggat dari barak ini menembus barikade para penjaga dan kemudian mereka membedilku mati, mungkin itu lebih baik.
Akan tetapi Surti selalu mengingatkanku ketika aku mulai putus asa, dan wajah mboklah yang menyemangati aku untuk terus hidup. Aku mau membantu mbok mencari kayu bakar untuk masak, memetik sayuran dibelakang rumah, memasak dan mengantarkan makanan ke sawah untuk mbok dan mas Tegar. Akankah semua hal manis itu dapat terulang lagi.
Suatu hari para serdadu itu menggiring kami keluar barak, ada kabar gembira para serdadu ditarik mundur dari negeriku. Kami dipulangkan. Surti memelukku erat, sebelum naik keatas gerbong kereta yang akan membawanya pulang kekampungnya. 
...................

Kereta yang membawa ku tiba di stasiun kereta di kampungku. Lunglai aku menuruni tangga kereta.. kutatap nanar wajah mbok yang basah dengan air mata, mbok memelukku dan aku diam tak bergeming.

“kamu pulang nduk..”

Kulihat guratan-guratan di wajah mbok yang semakin jelas.

“.. mbok… serdadu itu….” 

dengan suara yang entah terdengar atau tidak oleh si mbok, aku berusaha memberitahu mbok apa yang terjadi denganku.

“...susss sudahlah nduk, kamu tetap anak gadis mbok apapun yang sudah terjadi padamu”

“Mas Tegar ?..”

“Sabar ya nduk…”

Kemudian kuketahui mas Tegarku sudah beristrikan seorang perempuan cantik dari kampung sebelah dan kini memiliki 2 orang anak.
Tangisku tak mengubah segalanya. Rindu yang kusimpan selama ini pupus sudah. Kalaupun mas Tegar belum berkeluarga, akupun tak akan berani kembali kepadanya.. apalah aku kini, bahkan mungkin orang-orang kampungku akan mencemoohkanku dengan kondisiku yang sekarang. Dan akan sulit untuk keluarganya bisa menerima aku.
Karena aku adalah ilalang yang tercerabut dari akarnya.
.......................
.......................

1 comment:

  1. Pengalaman pribadi yg sangat mengeriakan dan akan trauma seumur hidup....

    ReplyDelete