Sunday, April 22, 2012

Aku masuk lorong waktu ke Batavia 1829 !!

Aku tiba-tiba berada disebuah jalan yang asing, udara segar langsung memenuhi paru-paruku, aku pejamkan mata sesaat meresapi tenteramnya udara yang menyentuh kulit dan rambutku dan ketika kubuka mata, pertama kali yang kulihat adalah patung malaikat kecil bersayap, diujung jalan tepat diatas jembatan yang membentang diatas sebuah sungai.
Ada pohon-pohon besar disisi-sisi jalan, bangunan antik, rel kereta berukuran lebih kecil berada ditengah jalan. Jalan ini begitu lenggang, rimbun banyak pepohonan dan terlihat luas.
Dengan bertelanjang kaki aku berlari kecil kearah ujung jalan ini berdiri tepat dibawah patung malaikat kecil itu, melihat kebawah jembatan.
Gemericik air sungai jernih ditingkahi dengan suara gadis-gadis cantik ber perahu dengan gaun indah dan berpayung cantik. .... Perlahan aku mengenali daerah ini … adakah patung malaikat kecil serupa ditempat lain? Ini HARMONI ! dan sungai jernih dan harum ini adalah CILIWUNG, bangunan antik yang berseberangan dengan patung malaikat kecil itu adalah gedung BTN, tapi kenapa semuanya berbeda dalam pandanganku? dan aku tidak mengenali seorangpun yang melintas disini?
Tak peduli dengan keanehan yang ada, aku menikmati suasana kota yang sejuk dan indah!
Aroma harum air membangkitkan niatku untuk lompat salto ke sungai kemudian berenang menyusuri sungai yang jernih. Tapi... bunyi pluit mengurungkan niatku untuk berenang, aku tersentak sebuah kereta trem melintas didekatku. Aha! TREM ? ditengah kota Jakarta?
Horeee! Aku berada di Jakarta tahun 1829!

Belum habis suka citaku, tiba-tiba aku sudah berada dilokasi asing lainnya, ada banyak rel kereta api ganda disekitarku dan aku berdiri didalam bangunan berkubah bundar ber cat putih, ini setasiun kereta api BEOS!
Banyak pria mondar-mandir dengan pakaian seperti Abraham Lincoln, tampaknya ini adalah pusat bisnis dan transportasi, karena ada banyak transaksi bisnis disini. Aku hampiri salah satu loket dan kataku :
“Saya mau membeli kapal pesiar termewah yang Anda punya”
“Silahkan Anda melihat-lihat brosur kami” seorang wanita blonde bertopi lebar, menyodorkan setumpuk brosur.
“Saya tertarik dengan yang ini” kataku sambil menunjuk kearah gambar sebuah kapal pesiar dengan banyak kamar mewah yang dilengkapi dengan Bioskop pribadi, café, lantai ice untuk ber ‘Ice skating”, kolam renang besar, counter Mc Donnald, AW, Bakso Lapangan Tembak, restoran padang Sederhana, Bread Talk, Donat J-Co, toko kue dengan Klappetart ter-enak didunia, dll.
“Harganya empat ratus ribu rupiah. Silahkan Anda tanda tangan disini untuk pemesanan”

Aha ! empat ratus ribu rupiah!!  tidak heranlah … ini kan tahun 1829, tentu saja apa-apa masih murah! Aku tersenyum penuh kemenangan, aku merasa beruntung hidup di tahun 2000an dan bisa belanja di tahun 1829an, duit segitu mah … keciiiill.

“Okay madam, saya bayar sekarang! Apa bisa pakai kartu kredit?”
“Bisa. Sini kartunya saya gesek”
dan aku merogoh-rogoh saku baju, … HAH! tidak ada saku dipiyamaku! Lho kenapa aku masih dengan pakaian yang sama ketika aku di Harmoni tadi, nyeker pula!
Ketika aku panik berusaha mendapatkan kartu kredit-ku ..

“Ma …ma, udah setengah enam, Ade belum dibuatin sarapan..” perlahan kubuka mataku … yang tampak anakku Vira tersenyum lucu. Wah aku mimpi MASUK LORONG WAKTU!

“Mama tadi teriak-teriak … nyari-nyari kartu… mama mimpi ya?
Aku tersenyum kecut mengingat Kapal Pesiar yang batal dibeli gara-gara tidak bawa dompet.

Komentar Vira ketika aku cerita mimpiku : “Mama sih kalo kemana-mana ga bawa uang cash … geseeeek… melulu!”

Aku : #%&*^@#!&54565zzzzzz ....

No comments:

Post a Comment